Translate

Kamis, 19 Mei 2011

Masyarakat membutuhkan informasi yang benar , baik , tepat, adil dan berimbang meminimalisir tingkat resiko gejolak sosial masyarakat

Masyarakat sekarang seolah dibanjiri luapan informasi yang tidak terbendung dalam kebebasan pers , setelah pintu kran demokrasi dibuka lebar lebar. Tantangan yang terjadi dalam masyarakat adalah : masyarakat dituntut selektif, kritis dalam menerima informasi. Tidak menelan mentah -mentah informasi yang diterima, karena informasi yang diterima masyarakat harus dicerna , diolah kembali dengan baik dan benar, ditempatkan pada posisi obyektif dan pada proporsinya. Karena informasi yang dikomunikasikan  dalam menyampaikan pesan tertentu mempengaruhi pembentukan opini publik. Sumber pesan yang disampaikan memiliki dua implikasi sama dengan sumber pesan asal atau tidak sama dengan sumber pesan asal karena terjadi bias informasi pesan dalam perjalanan ketika diterima .Hasil pesan/ informasi yang diterima masyarakat sama atau berbeda bisa dilakukan dengan proses umpan balik. Jika pesan asal sama dengan pesan yang diterima maka informasi berjalan dengan normal dan baik. Tetapi jika pesan asal tidak sama dengan pesan yang diterima ada dugaan proses selama pesan berjalan dan obyek penerima pesan mengalami gangguan atau bias.Sementara kita masih berkutat serius pada permasalahan penyampaian pesan informasi dan penerimaan pesan informasi dengan baik dan benar, ternyata masih ada istilah pesan terselubung yang ikut serta dalam perjalanan proses penyampaian pesan.Pesan terselubung biasanya terkait dengan kepentingan kepentingan tertentu, terutama kepentingan yang masih menjadi issue up to date maupun prediksi issue up to date kedepan. Kemampuan kemampuan dalam mengolah informasi dan memahami informasi inilah sayangnya tidak semua masyarakat bisa memiliki , sehingga tidak memiliki kemampuan selektif untuk memfilter dan kritis dalam menyikapi setiap kejadian dan peristiwa yang ada dan disampaikan oleh media.Jika demikian maka memang kondisi masyarakat diandaikan heterogen dalam memiliki ketrampilan dalam menerima setiap informasi yang disampaikan oleh media pers. Tidak menutup kemungkinan karena adanya perbedaan penerimaan persepsi karena disebabkan faktor tertentu inilah diduga kuat juga menyumbangkan dan menyulut konflik dalam masyarakat, keresahan dan gejolak sosial masyarakat dari tingkat tindakan yang tidak anarki samapai tindakan anarki. Dengan menyadari hal ini maka yang dibutuhkan oleh pengelola media  adalah melakukan penyadaran dalam mempertimbangkan kalkulasi manajemen resiko informasi media dampaknya pada masyarakat ( audiance ) . Sebut saja jika terjadi kesalahan isian dalam pemberitaan baik menyangkut isi pemberitaan yang tidak benar dan up to date yang dilakukan oleh pelaku media maupun narasumber , sebagai contoh pemberitaan bencana alam yang salah tentang prediksi gempa yang akan terjadi dan dilakukan oleh media televisi , radio dan cetak, tidak hanya itu saja bisa jadi pemberitaan seputer ekonomi, sosial, politik. Resiko resiko yang diakibatkan pemberitaan yang tidak pas atau bahkan ekstrimnya salah dan fatal memiliki resiko serius yang memiliki andil pencetus dalam konflik dan gejolak sosial dimasyarakat. Mudah mudahan dengan sedikit refleksi  ini kita bersama : masyarakat, pemerintah juga pelaku media pada khususnya semakin berfikir kedepan tentang dampak resiko informasi terhadap gejolak sosial masyarakat dan menjadi semakin bijak, adil dan benar  dalam menyikapi. semoga.

Rabu, 16 Maret 2011

Ayolah kembali berperan sesuai dengan peran kita yang sebenarnya

Setia pada comitment dan panggilan nurani hidup untuk berperan memberikan kontribusi terbaik kedepan bagi kemajuan bangsa yang memiliki visi dan misi menegakkan kebenaran, keadilan, kesejahteraan dan kebahagian bagi bangsa tidaklah mudah. Pada saat kita sudah berperan sesuai dengan proporsi dan peran kita yang benar dan sesungguhnya,  masyarakat sudah menilai kita sejauh mana kita berkiprah dan memiliki comitment pada bidang kehidupan yang kita lakukan. Catatan peran kita dimasyarakat sungguh sungguh selalu dicermati dan diperhatikan sengan seksama, tidak jarang kita memang tetap setia comitment tetapi sering kita juga menyimpang dari comitment kita. Apakah dampaknya ketika kita menyimpang dari comitment kita ? masyarakat menjadi tidak percaya denga apa yang kita lakukan, kepercayaan masyarakat pada kita juga semakin menurun. Apalagi kalau kita berperan dalam skala Nasional, peran kita diuji sungguh. Banyak Tokoh masyarakat, public figur, yang sebenarnya sudah berperan tepat pada jalur yang benar, tetapi ketika perannya bersentuhan dengan ambisi, kekuasaan dan politik maka ia tidak lagi bisa dipegang comitmentnya. Bukankah politik, kekuasaan, ambisi memberi contribusi pada pudarnya comitment peran seseorang ? dalam politik, kekuasaan, ambisi tidak ada lagi hatu nurani, kejujuran, tetapi sering banyak terjadi tidak transparan dalam diri tokoh dan lebih ekstrimnya sering terjadi kebohongan public. Sayang sekali mengapa semua ini harus terjadi, itulah yang dialami beberapa "tokoh public figur " yang sebelumnya telah terjun dalam kehidupan masyarakat membawa bendera perjuangan keadilan , kebenaran, kejujuran tetapi menjadi tidak jelas setelah terjun diarena politik yang sarat dengan ambisi, kekuasaan dan kebohongan kebohongan yang tidak jarang membodohi rakyat. Melihat peristiwa tragedi  ditanah air satu hari lalu terhitung hari ini terkait dengan teror bom, menunjukkan bahwa perubahan peran seseorang dalam masyarakat memiliki dampak serius terhadap ancaman secara fisik dan ancaman serius terhadap ketidakpercayaan pada figur yang dikenal sebagai  "public figur ", apakah semua ini disadarai atau tidak tergantung dari kemampuan orang yang melakukan peran tersebut refleksi diri dan evaluasi diri terhadap perubahan peran yang sudah dilakukan. Singkat kata : mungkin Tuhan sudah menggariskan kita untuk berperan tertentu sesuai dengan talenta atau bakat kita yang bisa memberikan  bagi masyarakat agar bisa bermanfaat , tetapi sering kita tidak puas dengan peran kita dan mencoba berperan lain yang berakibat tidak melakukan fungsinya secara maksimal bahkan kridibilitas kita rusak dimata masyarakat, semuanya hanya karena peran kita bergeser karena masuk di area politik, kekuasaan dan ambisi. Ayolah kita kembali keperan kita semula yang sesungguhnya jangan pernah kembali atau berubah berperan lain yang tidak menunjukkan kepribadian kita dan tidak memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat banyak.

Selasa, 15 Maret 2011

Bermain pengalihan issue terkena permainan issue, senjata makan tuan kah ?

Ada pepatah siapa yang menabur maka dia akan menuai, sepertinya istilah pepatah ini mendekati kenyataan akhir dari sebuah permainan pengalihan issue yang dalam beberapa bulan ini telah dihembuskan dan akhirnya menuai badai. Apapun kebenaran tetap kebenaran, keadilan tetap keadilan jangan mencoba untuk menutupi dengan berbagai macam cara karena sepertinya kebenaran dan keadilan akan tetap berbicara sesuai adanya. Kalau kita bermain main dengan api maka kita akan tersulut api dan terbakar. Lihatlah sekarang yang terjadi permainan pengalihan issue berhadapan dengan permainan tingkat tinggi internasional yang tingkatannya lebih canggih dan hebat, dan pada akhirnya membuat kebakaran jenggot  sang aktor yang bermain pengalihan issue, sangat jelas terbaca bahwa kemana- mana membuat cara mekanisme pertahanan diri yang tidak perlu !!!...Kalau kita memang tidak bersalah kenapa musti kebakaran jenggot dan membuat pernyataan kesana kemari menyangkal diri, lalu sebenarnya ada apa dengan perilaku panik menyakal diri kesana kemari dan membuat mekanisme pertahanan diri ? Pada akhirnya masyarakat menilai jangan - janagn benar atau jangan janagn salah ? Kalau kita tidak bersalah :  issue dan berita yang tidak benarpun akan hilang sendiri karena tidak sesuai dengan kenyataan.Marilah kita belajar untuk mengatakan jujur, benar , tepat, adil  dan bijak agar kita tetap dipercaya rakyat dan memiliki legitimasi kuat dimata rakyat. Semoga....

Kamis, 24 Februari 2011

Apakah masyarakat kita masih efektif dan efisien dengan metode pengalihan isu ?

Sebuah fenomena menarik dinegeri yang bernamakan Indonesia, dalam dinamika pergerakan sosial dan politik yang mengemukakan tentang ketidak adilan , masalah korupsi, ketidaksejahteraan, masalah nasib rakyat dan masih banyak lainnya, tiba - tiba muncul isu baru dan banyak   yang seolah olah menghilangkan masalah pokok  atau  menjadi skala prioritas. Pertanyaanya adalah dalam dinamika masyarakat yang semakin pintar dan kritis membaca situasi gejolak sosial, budaya , ekonomi, politik , metode pegalihan isu tetap menjadi sarana yang efektif dan efisienkah ? apakah ini artinya tidak tanggap terhadap perubahan dinamika masyarakat yang semakin maju , modern , kritis dan pintar ? sebuah kesadaran yang terlambat dan tidak bisa membaca dinamika perubahan masyarakat. Apapun itu isu yang dihembuskan kemasyarakat  yang sudah semakin cerdas, pintar dan dewasa untuk memilah milah secara benar, tepat, cermat, baik dan bijak. Jangan pernah berfikir bahwa strata posisi seseorang dalam sistem kekuasaan lebih pintar daripada masyarakat biasa yang tidak memiliki jabatan dan kekuasaan. Malah masyarakat melihat di media badut badut dengan kekonyolan dan kepongahan bermain sandiwara dilingkaran kekuasaan dll. Banyak diantara mereka tidak sadar bahwa apa yang dilakukan  seolah - olah tidak terbaca dan diketahui masyarakat umum, sampai kapankah akan tetap terus bermain sandiwara dan menabur banyak isu ? kita akan lihat bersama bagaimana Ending dari sebuah drama dan sandiwara yang sarat dengan kepura -puraan dan menebar pengalihan isu untuk menghindari kebenaran dan keadilan yang diharapkan rakyat Indonesia .

Jumat, 12 November 2010

Harga diri manusia akan menjadi mahal dan penting jika berduit dan jadi orang penting

Ketika Norma - norma- norma kehidupan manusia sudah dimiliki, maka nilai norma norma hidup menjadi pengatur ( traffict   ) dalam seluruh  sendi - sendi kehidupan perilaku manusia. Hidup tanpa adanya  Norma / tata aturan nilai akan menjadi liar, orang akan menjadi seenaknya melanggar batas- batas kepentingan dan hak orang lain. Akibat dari pelanggaran yang terjadi menyebabkan ketidakadilan, penindasan, dan penderitaan bagi orang lain.Tentu perkara / masalah penerapan nillai - nilai norma tidak gampang, karena dibutuhkan kesadaran individu untuk lebih bisa memahami perilaku mana yang boleh mana yang tidak boleh, mana yang benar dan mana yang tidak benar. Semua penerapan norma -norma akan menjadi sulit ketika ada kepentingan yang melatar belakanginya. Apalagi kepentingan yang melatarbelakanginya menyangkut politik, harta dan kekuasaan. Pada situasi dan kondisi seperti ini yang namanya norma - norma kehidupan kadang " Tidak menjadi penting lagi " karena  yang terjadi kebenaran bisa berkebalikan menjadi tidak benar dan sebaliknya. Ironis memang, karena semuanya itu terjadi oleh uang, kepentingan politik, kekuasaan dan dan kepentingan lainnya. Singkat kata semuanya bisa dibeli kalau kita mempunya harta atau uang. Saat uang memiliki kekuatan sebagai panglima atas tata nilai norma kehidupan maka  kebenaran rasanya menjadi semu, pesimis dan tanpa harapan. Banyak orang menjadi tidak percaya lagi dengan kebenaran dan tata nilai kehidupan...karena bisa dibengkok- bengkokkan. Kasus - kasus yang terjadi pada tokoh penting dinegri ini menjadi contoh atau sample, bagaimana kebenaran didustai hanya karena uang . Tokoh - tokoh pemuka masyarakat , publik figur menjadi kondisi real bahwa ketika merekapun jatuh dalam kesalahan karena memiliki harta dan benda maka perlakuannya pun akan berbeda dibanding orang biasa yang melakukan kesalahan dan tidak memiliki harta atau uang. Lalu pertanyaannya kapan sampai kapan kondisi ini akan mengalami pembiaran ?.. masihkah dinegri ini kebenaran dan ketidak benaran hanya dimilik sekelompok orang tertentu ? ( hery arya )

Selasa, 09 November 2010

Derita kemanusiaan dan bencana dinegeri ini untuk issue kepentingan popularitas

Tahun 2010 menyisakan serentetan tragedi bencana dan kemanusiaan yang memilukan dan menggores nurani, tetapi kondisi penanganan korban bencana belum menjadi harapan kita bersama. Lihatlah penangana bencana banjir Wasior, bencana Tsunami Mentawai, dan meletusnya Gunung Merapi.Pada situasi emeregency bencana Skala prioritas hanya satu nurani kita yang terketuk : tolong dulu dan selamatkan mereka, kesampingkan kepentingan yang lain demi sesama kita korban bencana yang menderita dan  membutuhkan bantuan yang cepat , tepat dan benar. Tetapi masyarakat bisa menyaksikan dimedia dan dilapangan bagaimana pertolongan yang dilakukan banyak yang tulus tetapi banyak juga pertolongan yang sarat dengan embel - embel kepentingan pribadi, kekuasaan, dan politik demi popularitas. Mengais Popularitas demi kepentingan kekuasaan, politik ditengah bencana sungguh sesuatu yang sangat berlawanan dengan Hati Nurani. Ketika kita bertanya dalam diri Nurani kita : Mencari Popularitas diranah tragedi bencana kemanusiaan apakah tepat ? Jawaban ini kiranya perlu ada dalam diri kita Manusia. Ada beberapa renungan kita bersama : mana yang harus kita lakukan : menolong dengan tulus tanpa mengharap imbalan atau menolong dengan tujuan tertentu dan dengan harapan tertentu ? mari kita kembali pada Nurani kita terdalam  ( Hery Arya )